Katajari.com – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Banjar mengambil langkah-langkah untuk menangani lahan pertanian pascabanjir sebab tercatat kurang lebih 1.383 hektar yang terdampak.
Melalui optimalisasi lahan dan Corporate Socua Responsibility (CSR) mendorong para petani untuk segera melakukan percepatan tanam begitu kondisi cuaca dan iklim kembali normal.
Pascabanjir terjadi tercatat data kerusakan untuk berbagai kategori lahan seperti semai, lacakan, dan lahan yang sudah ditanam dari 1.383 hektar lahan.
Sekitar 627 hektar dinyatakan puso atau kerusakan total yang tidak dapat ditolong sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Pertanian Warsita di ruang kerjanya pada Selasa (20/1/2026) sore.
“Kondisi lahan pascabanjir atau terendam, ada beberapa kecamatan yang terdampak yaitu luasnya semai sebanyak 6.780 kilogram,” katanya.
Lacakan 250 Kg yang sudah ditanam 1.383 hektar, untuk yang puso terdapat semai 3.570 Kg lacakan 22 Kg dan yang sudah ditanam ada 627 hektar.
Ditambahkan Warsita, namun ini lebih kecil dampak banjir yang sebelumnya artinya Distan Kabupaten Banjar tekan separo dulu kurang lebih 1.500 yang puso sekarang menjadi 627 karena memang banjir ini agak maju sehingga pihaknya tunda para petani untuk tanam.
“Wilayah yang terkena dampak cukup tinggi adalah daerah Kecamatan Beruntung Baru sebanyak 328 hektar karena ada percepatan tanam sedangkan Martapura Timur 121 hektar, Martapura Barat 141 hektar dan Sungai Tabuk 8 hektar,” paparnya.
Ia juga menjelaskan langkah-langkah yang dilakuan pascabanjir ini diantaranya penilaian dan pendataan lahan yang terdampak petugas dari Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) bertugas untuk menentukan lahan mana mengalami puso (kerusakan total yang tidak dapat ditolong lagi).
“Nanti kita mengusulkan bantuan penggantian benih bagi lahan yang dinyatakan puso dan yang sudah tanam diikutkan Asuransi Usaha Tani Padi atau AUTP,” ujar Warsita
Petani yang lahannya sudah terdaftar dalam program AUTP dapat mengajukan klaim yang saat ini, tercatat sekitar 114 klaim yang sedang diproses, termasuk 90 hektar di Kecamatan Martapura Barat dan 24 hektar di Kecamatan Martapura Timur.
Selain itu juga ada program dari Kementerian yaitu kegiatan optimalisasi lahan dan CSR (Corporate Social Responsibility) yang berbasis Balai Penyuluhan Pertanian (BPP).
Petani telah menerima bantuan alat mesin pertanian (alsintan) untuk mendukung proses pemulihan, percepatan tanam.
“Dengan tersedianya benih dan peralatan, kami mendorong para petani untuk segera melakukan percepatan tanam begitu kondisi cuaca dan iklim kembali normal, selain dari kementerian, benih juga telah disediakan melalui dana APBD dan sudah mulai dibagikan kepada petani,” pungkasnya. (kjc)
























