Katajari.com – Dampak dari pembangunan revitalisasi taman Cahaya Bumi Selamat CBS) Martapura telah merusak sebagian jalur terapi kesehatan bagi lanjut usia (lansia) di Alun alun Ruang terbuka Hijau (RTH) Ratu Zalecha Martapura.
Fasilitas itu disebut refleksologi path atau jalur refleksologi yang biasanya dibikin dengan kumpulan batu-batu kerikil kecil atau batu apung untuk diinjak-injak bertujuan melancarkan peredaran darah.
Jika sebelumnya fasilitas kesehatan berupa jalur refleksologi yang juga dilengkapi pegangan tangan dalam memudahkan pengguna menyisir jalur, dengan ukuran bentuk L sepanjang sekitar 10 meter dan lebar 4 meter.
Namun, kondisi berubah dan berkurang seiring revitalisasi Taman CBS Martapura di sampingnya.
Ironisnya lagi bekas potongan besi tiang pegangan menonjol ke permukaan yang rawan menimbulkan bahaya kecelakaan.
“Kami hanya bisa memanfaatkan sisa jalur refleksi kaki, tapi tidak ada lagi pegangan tangannya,” ucap Karim, lelaki berusia 56 tahun dari Kelurahan Murung Kenanga Kecamatan Martapura.
Pernyataan senada diutarakan Arsyad dari Kampung Melayu, yang mengaku setiap akhir pakan atau Minggu berolahraga pagi di Alun alun Martapura.
“Setiap selesai jalan kaki mengelilingi alun alun, dilanjutkan refleksi kaki,” katanya, Minggu (12/4/2026).
Pemkab Banjar Akan Perbaiki Jalur Refleksi Kaki
Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Banjar, memastikan akan segera meninjau dan membenahi fasilitas trek lansia berupa jalur refleksi kaki, pasca rehabilitasi CBS Martapura.
Pihaknya akan menanggapi laporan masyarakat terkait kondisi trek khusus lansia yang dibongkar dan hanya menyisakan sebagian trek, serta bongkaran tiang-tiang pengaman dinilai membahayakan pengguna fasilitas.

Kepala DPRKPLH Kabupaten Banjar, Akhmad Baihaqi, berkomitmen untuk segera melakukan pembenahan dan perbaikan pada trek lansia setelah adanya laporan dari masyarakat tersebut.
Trek lansia tersebut menurut Baihaqi tidak masuk dalam perencanaan pengerjaan taman CBS.
Tetapi tiang-tiang pengaman trek tersebut sebelumnya masuk dalam rencana untuk dipotong atau dibuang guna meningkatkan aksesibilitas.
Namun, proses pengerjaan kurang sempurna menyebabkan masih adanya sisa tiang potongan yang mengganggu kenyamanan pengguna.
“Iya, memang itu termasuk dalam rancangan dan harus diputus. Tujuannya supaya akses lebih nyaman dan mudah. Hanya saja, pemotongannya mungkin kurang sempurna sehingga masih menyisakan bagian yang mengganggu,” ujarnya.
Ditambahkan Baihaqie, pihaknya akan meninjau kembali kebutuhan akan pegangan tangan (handrail).
Jika memang masih dibutuhkan oleh lansia sebagai tumpuan saat berjalan, fasilitas tersebut akan disempurnakan.
“Nanti akan kami tinjau kembali. Kalau memang masih dimanfaatkan dan memang perlu, akan kami benahi dan sempurnakan supaya tidak membahayakan,” imbuhnya.
Selain itu, ia juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan fasilitas pada Taman CBS Martapura dengan bijak dan bersama-sama menjaga serta merawatnya.
Karena hingga saat ini, area CBS Martapura tersebut masih berada dalam masa pemeliharaan.
Meskipun fasilitas sudah mulai digunakan, proses perbaikan terhadap bagian-bagian yang rusak atau kurang baik terus dilakukan secara bertahap hingga masa pemeliharaan berakhir.
“Proses perbaikan terus berjalan sampai akhir masa evaluasi. Kami tetap melakukan pemeliharaan secara berkelanjutan,” sebut dia. (kjc)
























