Banjar  

BPBD Kabupaten Banjar: 394 Hektare Lahan dan 2 Rumah Terdampak Karhutla

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar Warsita (kanan) di ruang kerjanya, Rabu (13/9/2023) pagi. (Foto: Kominfo Kabupaten Banjar/Katajari.com)
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar Warsita (kanan) di ruang kerjanya, Rabu (13/9/2023) pagi. (Foto: Kominfo Kabupaten Banjar/Katajari.com)

Katajari.com Jumlah luasan lahan yang terbakar karena kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan, saat ini sudah mencapai sekitar 394 hektare serta 2 unit rumah milik warga di Kecamatan Sungai Tabuk ikut terdampak.

Sejak dinaikkan statusnya menjadi siaga bencana Karhutla dan kekeringan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar setiap harinya melakukan penanganan.

Baik penanganan karhutla maupun suplai air bersih ke beberapa desa yang kekeringan akibat terdampak musim kemarau.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar Warsita di ruang kerjanya mengatakan, hingga Rabu (13/9/2023) pagi, data rekapitulasi hotspot atau titik api tercatat 327 yang sudah ditangani oleh tim gabungan.

Dari jumlah tersebut luasan lahan yang terbakar 394 hektare serta 2 unit rumah milik warga di Kecamatan Sungai Tabuk ikut terdampak.

“Dua rumah kosong yang terdampak itu untuk gudang pertanian, karena di situ bekas lahan transimigrasi,” ucapnya.

Ditambahkan, karhutla yang terjadi dengan jumlah ratusan hektare tersebut terjadi di 17 kecamatan yang rawan dan 8 kecamatan di antaranya sangat parah.

Wilayah yang diprioritaskan penanganan oleh pihaknya berada pada 8 kecamatan.

Yakni, Kecamatan Martapura, Martapura Barat, Astambul, Gambut, Beruntung Baru, Mataraman, Cintapuri Darussalam dan Kecamatan Sungai Tabuk.

“Penanganan oleh tim gabungan diprioritaskan pada karhutla yang posisinya mendekati rumah atau kebun warga,” tuturnya.

Lebih jauh dikatakannya, saat ini banyak dari petani yang sudah melakukan panen terhadap tanaman padinya.

Untuk itu ia mengimbau agar petani tidak membakar jerami padinya yang bisa memicu terjadinya karhutla.

“Jangan membakar jerami padi dengan alasan kesuburan tanah, bebas hama dan biaya murah untuk jangka pendek, padahal ke depannya akan boros untuk pemeliharaannya, seperti penggunaan pupuk yang begitu banyak,” ujarnya.

Ia menyebut kerugian yang diakibatkan oleh karhutla tidak bisa dihitung, yang jelas asapnya berdampak pada lingkungan dan masyarakat, jadwal penerbangan harus delay dan lainnya.

“ lebih banyak mudaratnya lah,” tutup Warsita. (kjc)

Tinggalkan Balasan