Kepatuhan Orangtua dalam Pemberian Makanan Tambahan Balita Berpengaruh Terhadap Perbaikan Status Gizi Balita

Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 di tingkat Kota Banjarbaru terdata 6.8% Balita Kurang Gizi. (Foto: Dok. Katajari.com)
Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 di tingkat Kota Banjarbaru terdata 6.8% Balita Kurang Gizi. (Foto: Dok. Katajari.com)

Oleh: Ratni Suslina, AMG (Ahli Gizi Puskesmas Guntung Manggis)

Pemberian Makanan Tambahan

Balita adalah anak yang berusia di bawah 5 tahun dan merupakan kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Balita termasuk kelompok rawan gizi.

Posisi status gizi balita di Indonesia masih termasuk dalam masalah kesehatan masyarakat apabila dilihat dari ambang batas masalah gizi.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan secara nasional balita BB kurang dan sangat kurang prevalensinya adalah 17.7%, balita pendek dan sangat pendek prevalensinya adalah 30.8% dan prevalensi sangat kurus dan kurus adalah 10.2% ditemukan sebanyak 278 balita mengalami gizi buruk.

Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 di tingkat Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan balita Gizi kurang sebesar 10.3% sementara di Kota Banjarbaru terdata 6.8% balita Gizi kurang.

Kekurangan asupan gizi merupakan salah satu masalah yang dapat menyebabkan gangguan pada tumbuh kembang anak, sehingga perlu adanya upaya yang dilakukan untuk menanggulangi masalah ini salah satunya melalui intervensi Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

Program intervensi ini langsung pada balita yang menderita kekurangan energi dan protein yang bertujuan untuk mencukupi kebutuhan zat gizi balita agar meningkat status gizinya sampai mencapai gizi yang baik.

Ratni Suslina, AMG, Ahli Gizi Puskesmas Guntung Manggis Kota Banjarbaru. (Foto: Dok. Katajari.com)
Ratni Suslina, AMG, Ahli Gizi Puskesmas Guntung Manggis Kota Banjarbaru. (Foto: Dok. Katajari.com)

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) merupakan program yang dilaksanakan pemerintah pada kelompok usia balita yang ditujukan sebagai tambahan makanan utama sehari-hari bukan sebagai pengganti untuk mengatasi kekurangan gizi.

Pada prinsipnya makanan tambahan yang diberikan dalam bentuk bahan makanan lokal sebagai makanan tambahan untuk memenuhi gizi balita, khususnya balita kurus berupa biskuit MT balita yang termasuk dalam jenis PMT pabrikan.

Biskuit PMT pemulihan dipormulasi mengandung minimum 160 kalori, 3.2-4.8 gram protein dan 4-7.2 gram lemak tiap 40 gram biskuit sasaran utama adalah balita usia 6-59 bulan dengan kategori kurus.

Tingkat Kepatuhan Konsumsi PMT

Masalah gizi sering dikaitkan dengan pangan yang kurang terutama pada balita. Upaya pemerintah untuk menangani masalah gizi yaitu dengan memberikan makanan tambahan.

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi status gizi yaitu faktor langsung dan faktor tidak langsung.

Perilaku kepatuhan orang tua dalam mendidik anaknya dan mematuhi program pemerintah adalah salah satu faktor tidak langsung yang mempengaruhi status gizi.

Kepatuhan orang tua terhadap ketentuan program pemerintah dalam pemberian makanan tambahan pada balitanya dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain pendidikan, pengetahuan, dukungan keluarga dan peran tenaga kesehatan.

Terkadang orang tua suka menganggap balita sudah bisa makan sendiri jadi balita dibiarkan memilih makanan sendiri ada juga karena jarak kelahiran yang terlalu dekat atau si ibu sibuk bekerja.

Sehingga balita kurang mendapatkan perhatian, balita sudah mulai bermain dengan lingkungan di sekitarnya sehingga memungkinkan terkena infeksi.

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Balita. (Foto: Dok. Katajari.com)
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Balita. (Foto: Dok. Katajari.com)

Gizi yang cukup sangat penting pada lima tahun pertama untuk memastikan anak tumbuh kembang dengan sehat, organ terbentuk dengan fungsi yang tepat, terbentuknya sistem kekebalan yang kuat dan berkembangnya sistem neurologis dan kognitif.

Gizi pada masa ini mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak di masa depan.

Meningkatnya sumber daya manusia menjadi sehat, produktif dan cerdas merupakan suatu komitmen berharga yang tidak hanya ingin dicapai oleh negara Indonesia namun berlaku juga secara global.

Hal ini dapat diwujudkan salah satunya dengan upaya perbaikan gizi untuk mengatasi masalah kurang gizi dan meningkatkan status gizi masyarakat menjadi lebih baik (Perpres,2013).

Perubahan Status Gizi Balita

Status gizi merupakan tingkatan yang menggambarkan suatu keadaan atau kondisi gizi seseorang, yaitu status gizi buruk, gizi kurang, gizi baik dan gizi lebih. Status gizi seseorang dikatakan baik ketika asupan dan kebutuhan zat gizinya seimbang.

Program PMT dapat meningkatkan status gizi balita jika dalam pelaksanaannya tepat sasaran maka kebutuhan energi dan protein terpenuhi sehingga status gizi balita menjadi lebih baik.

Sarni, dkk., (2021) dalam penelitiannya, pemberian makanan tambahan memberikan pengaruh terhadap perubahan status gizi balita, PMT yang diberikan pada balita berupa hidangan gizi seimbang yang bervariasi dilakukan dengan cukup baik dan balita yang menjadi sasaran menerima asupan energi.

Serta protein yang mencukupi mampu meningkatkan berat badan dan memperbaiki status gizinya.

Adelasanti dan Rakhma, (2018) dalam penelitiannya dari berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan orang tua dalam pemberian makanan tambahan, seperti faktor pendidikan, pengetahuan dan pendapatan yang rendah berisiko tidak patuh sehingga status gizi balita tidak ada perubahan.

Kesimpulan

Ada hubungan antara kepatuhan orang tua dalam pemberian makanan tambahan dengan perubahan status gizi balita. PMT yang diberikan hanya sebagai makanan tambahan bukan sebagai makanan pengganti dari makanan utama diharapkan bagi orang tua balita khususnya ibu balita lebih memperhatikan asupan makan bagi balitanya.

Tinggalkan Balasan