Katajari.com – Komunitas catur MGR Banjarbaru sukses menggelar turnamen catur berskala besar dalam rangkaian merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-48.
Ajang tahunan yang berlangsung di Terminal Catur Minggu Raya, Banjarbaru, Sabtu (4/7/2026) ini menyedot perhatian luar biasa dengan partisipasi lebih dari 100 peserta dari berbagai kategori
Ketua Bidang Perwasitan dan Pertandingan Percasi Banjarbaru Ahmad Rizain Nur, menyampaikan apresiasi atas tingginya antusiasme masyarakat.
Tercatat lebih dari 60 pecatur berlaga di kategori Open (Senior Putra), sementara kategori junior dan putri juga mengalami peningkatan partisipasi yang signifikan lebih dari 30 pecatur.
“Kami sangat senang melihat antusiasme peserta yang terus meningkat. Ini membuktikan bahwa pembinaan catur di daerah kita semakin baik,” ujar Rizain saat ditemui di lokasi kegiatan.
Salah satu sorotan utama dalam turnamen kali ini adalah partisipasi atlet catur disabilitas dari National Paralympic Committee (NPC) Kalimantan Selatan.
Dua nama atlet nasional, Wahyu dan Arief Hakim yang merupakan peraih medali emas beregu pada PON Papua 2021 lalu turut mengasah kemampuan di papan catur.
Menurut Rizain, keterlibatan mereka dalam turnamen umum bukan sekadar untuk meramaikan, melainkan bagian dari persiapan intensif menuju ajang nasional mendatang.
Mereka sering mengikuti turnamen umum di Jakarta maupun Surabaya untuk meningkatkan jam terbang.
“Mereka merupakan atlet binaan Peparprov yang dipersiapkan untuk tingkat Nasional 2028″ tambahnya.
Di balik sengitnya persaingan, sosok Arief Hakim menjadi inspirasi bagi banyak peserta.
Sebagai atlet catur tunanetra yang telah mendalami dunia catur sejak bangku SD, Arief membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berprestasi.
Untuk bertanding, Arief menggunakan papan catur dengan spesifikasi khusus.
Papannya diberi tanda, seperti kotak hitam dan putih yang permukaannya agak sedikit lebih tinggi agar bisa diraba.
‘Buah catur pun memiliki bentuk yang berbeda antara satu dengan lainnya agar bisa dibedakan melalui sentuhan,” jelas Arief.
Sepanjang kariernya, Arief telah mengukir prestasi gemilang, termasuk medali emas beregu dan perak perorangan pada Peparprov tahun 2025 lalu.
Kini, ia tengah menjalani pemusatan latihan intensif guna mempersiapkan diri menghadapi ajang tingkat nasional di NTB pada tahun 2028 mendatang.
Sambung Rizain turnamen ini menerapkan sistem Swiss sebanyak 7 babak yang dilaksanakan selama dua hari.
Sebanyak 5 babak diselesaikan pada hari pertama, sementara 2 babak penentuan akan dilangsungkan esok hari.
Durasi waktu berpikir ditetapkan selama 25 menit dengan increment 10 detik di setiap langkah.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah regenerasi pecatur muda di Banjarbaru sekaligus ajang pemanasan bagi para atlet sebelum berlaga di kompetisi nasional di NTB dan NTT,” tutup Rizain.
Kehadiran para atlet disabilitas seperti Arief, Wahyu, dan Ibrahim diharapkan dapat terus memotivasi penyandang disabilitas lainnya untuk berani mengejar impian di dunia olahraga. (kjc)
























