Erna Lisa Halaby – Wartono; Arah Pembangunan Terintegritas Melalui Banjarbaru EMAS

Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarbaru bersama jajaran Pemko Banjarbaru, Minggu (19/4/2026). (Foto: katajari.com)

Katajari.com – Pemerintah Kota Banjarbaru di bawah kepemimpinan Wali Kota Hj Erna Lisa Halaby (ELH) bersama Wakil Wali Kota Wartono menegaskan arah pembangunan daerah melalui visi Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera), dengan pendekatan berbasis data lintas organisasi perangkat daerah (OPD) sejak awal periode 2025–2029.

Itu dilakukan untuk memastikan setiap kebijakan terukur, terintegrasi, dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Strategi ini menjadi fondasi baru dalam tata kelola pembangunan Banjarbaru. Tidak lagi berjalan sektoral, setiap OPD kini bergerak dalam satu sistem yang terhubung, mulai dari perencanaan, penganggaran, penguatan sumber daya manusia, hingga pelaksanaan teknis di lapangan. Data menjadi pijakan utama, bukan sekadar pelengkap kebijakan.

Wali Kota ELH menegaskan pembangunan daerah tidak bisa lagi dilakukan dengan pendekatan parsial, melainkan harus berbasis data yang akurat dan terintegrasi.

“Pembangunan hari ini tidak cukup hanya berjalan, tetapi harus tepat sasaran. Karena itu, kita memastikan seluruh kebijakan berbasis data, terukur, dan bisa dipertanggungjawabkan. Semua OPD harus bergerak dalam satu arah yang sama, yaitu Banjarbaru EMAS,” ujarnya.

Bapperida Kota Banjarbaru Kendali Arah Pembangunan

Langkah tersebut diperkuat dengan peran sentral Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Banjarbaru sebagai pengendali arah pembangunan.

Seluruh data dari OPD, mulai dari kependudukan, pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur, dihimpun dan diolah menjadi dasar perencanaan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Banjarbaru 2025–2029.

Dalam konteks ini, data kependudukan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Banjarbaru menjadi salah satu fondasi utama.

Hingga 2026, jumlah penduduk Banjarbaru tercatat sebanyak 293.332 jiwa dengan cakupan kepemilikan e-KTP mencapai 99,68 persen dan akta kelahiran sebesar 98,92 persen.

Tingginya cakupan ini memastikan akurasi data sebagai dasar penyaluran program pemerintah, mulai dari bantuan sosial hingga layanan pendidikan dan kesehatan.

Wali Kota Erna Lisa Halaby dan Wakil Wali Kota Wartono dengan jajaran Pemko Banjarbaru, Minggu (19/4/2026). (Foto: Media Center Banjarbaru/katajari.com)

Disdukcapil Banjarbaru menyebutkan data kependudukan kini tidak hanya berfungsi sebagai administrasi, tetapi telah menjadi tulang punggung pembangunan.

Setiap program pemerintah sekarang harus berbasis data. Dengan data yang valid, penyaluran bantuan, layanan pendidikan, hingga kesehatan bisa tepat sasaran.

Dari sisi perencanaan, data dari Disdukcapil Banjarbaru tersebut kemudian diselaraskan dengan indikator pembangunan daerah oleh Bapperida Banjarbaru.

IPM Tertinggi di Kalimantan Selatan

Indikator seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM), angka kemiskinan, hingga capaian pendidikan dan kesehatan menjadi dasar dalam menentukan prioritas pembangunan.

Pada 2025, IPM Banjarbaru tercatat mencapai 82,20 dengan kategori sangat tinggi, tertinggi di Kalimantan Selatan. Angka harapan hidup berada di 75,44 tahun, sementara angka kemiskinan berhasil ditekan menjadi 3,44 persen.

Capaian ini menunjukkan adanya korelasi kuat antara perencanaan berbasis data dengan implementasi program di lapangan.

Di sektor kesehatan, Dinas Kesehatan berperan dalam menjaga peningkatan kualitas hidup masyarakat, termasuk melalui program penanganan stunting dan penguatan layanan kesehatan.

Sementara di sektor sosial, Dinas Sosial Banjarbaru memperkuat perlindungan bagi kelompok rentan, seperti lansia dan penyandang disabilitas, melalui program bantuan pangan, layanan BPJS, hingga penyediaan hunian layak.

Kepala Dinas Sosial Banjarbaru, Rokhyat Riyadi, menyampaikan bahwa intervensi sosial kini dilakukan secara terarah karena didukung data yang terintegrasi.

“Kami tidak lagi bekerja berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan data yang jelas. Siapa yang membutuhkan bantuan, di mana lokasinya, semua sudah terpetakan. Ini membuat program lebih efektif,” ujarnya.

Indeks Profesionalitas ASN Katagori Tinggi

Sementara itu, dari sisi penguatan sumber daya manusia aparatur, Badan Kepegawaian dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Banjarbaru mencatat jumlah ASN sebanyak 5.723 orang dengan Indeks Profesionalitas ASN mencapai 84,56 atau kategori tinggi.

Penguatan sistem merit, manajemen talenta, serta digitalisasi kepegawaian menjadi strategi utama dalam memastikan ASN mampu menjalankan program pembangunan secara optimal.

“ASN adalah motor penggerak pembangunan. Kalau SDM kuat, maka seluruh program bisa berjalan dengan baik. Karena itu, kita fokus pada peningkatan kompetensi, integritas, dan profesionalitas,” ujar perwakilan BKPSDM.

Dari sisi penganggaran, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Banjarbaru memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan kemampuan fiskal daerah.

Pada 2026, APBD Banjarbaru mengalami penyesuaian dari Rp1,7 triliun menjadi Rp1,4 triliun. Namun, melalui strategi efisiensi berbasis prioritas, program-program utama tetap berjalan.

“Kita fokus pada program yang berdampak langsung ke masyarakat. Yang tidak prioritas kita tunda, tapi pelayanan publik tetap harus berjalan,” ujar perwakilan BPKAD.

Efisiensi ini tidak menghambat pembangunan, justru mendorong OPD untuk lebih inovatif dalam menggunakan anggaran. Hasilnya, berbagai sektor tetap menunjukkan capaian positif.

Jumlah Titik Banjir Menurun

Di sektor infrastruktur, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) melalui Bidang Bina Marga dan Sumber Daya Air (SDA) mencatat pembangunan drainase sepanjang 12,5 kilometer serta pembangunan 14 embung dan kolam retensi.

Upaya ini merupakan keberhasilan karena mampu menurunkan jumlah titik banjir dari 52 menjadi 9 titik dalam periode 2025–2026.

Pendekatan yang digunakan tidak hanya konvensional, tetapi juga berbasis teknologi, seperti sistem telemetri untuk memantau curah hujan dan ketinggian air secara real-time, serta penerapan konsep zero run-off.

“Pengendalian banjir tidak bisa instan. Kita lakukan bertahap, mulai dari infrastruktur, pengaturan tata ruang, hingga teknologi. Hasilnya sudah mulai terlihat,” ujar perwakilan PUPR.

Capaian Standar Pelayanan Minimal di Peringkat Tertinggi

Di sektor pendidikan, Dinas Pendidikan mencatat capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebesar 88,94, tertinggi di Kalimantan Selatan.

Angka rata-rata lama sekolah (RLS) mencapai 11,07 tahun dan harapan lama sekolah (HLS) 14,87 tahun. Capaian ini menunjukkan peningkatan kualitas pendidikan secara signifikan.

Namun demikian, tantangan masih ada, terutama terkait anak tidak sekolah (ATS) dan kekurangan tenaga pendidik akibat pensiun.

“Kami terus melakukan penyesuaian, termasuk distribusi guru dan peningkatan kompetensi melalui pelatihan. Ini penting untuk menjaga kualitas pendidikan,” ujar Kepala Dinas Pendidikan.

Sistem Transportasi Perkotaan

Di sektor transportasi, Dinas Perhubungan mengembangkan layanan feeder Trans Banjarbaru sebagai bagian dari sistem transportasi perkotaan modern.

Sepanjang 2025, jumlah penumpang mencapai 162.001 orang, dan dalam tiga bulan pertama 2026 sudah mencapai 59.161 penumpang.

Program ini tentunya telah mendukung mobilitas masyarakat dan upaya peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekaligus terintegrasi dengan kawasan Banjarbakula.

Sementara itu, sektor ekonomi diperkuat melalui Dinas Koperasi, UMKM dan Tenaga Kerja (Diskopumnaker) Banjarabaru yang fokus pada pemberdayaan UMKM dan penciptaan lapangan kerja.

Program ini berperan penting dalam menekan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terlebih semakin bertambahnya UMKM setiap tahun.

Dengan seluruh capaian tersebut, terlihat jelas bahwa pembangunan Banjarbaru tidak berdiri sendiri di masing-masing sektor, melainkan terhubung dalam satu sistem yang saling mendukung.

Wali Kota perempuan pertama di Kota Banjarbaru, ELH menegaskan kolaborasi lintas OPD menjadi kunci keberhasilan pembangunan daerah.

“Tidak ada satu OPD yang bisa bekerja sendiri. Semua harus terintegrasi, saling mendukung. Dengan data yang sama, kita bergerak ke arah yang sama,” ujarnya.

Pendekatan berbasis data ini menjadi bukti bahwa Banjarbaru tidak hanya membangun secara fisik, tetapi juga membangun sistem pemerintahan yang modern, adaptif, dan berkelanjutan.

Dengan fondasi tersebut, Banjarbaru kini berada pada jalur yang tepat untuk mewujudkan visi besar sebagai kota yang elok, maju, adil, dan sejahtera, dengan pembangunan yang tidak hanya terlihat, tetapi juga terukur dan dirasakan langsung oleh masyarakat. (iday_katajari)