Dosen Pendidikan IPA ULM Perkuat Kompetensi Guru MGMP IPA; Pendekatan Deep Learning Berbasis Ekosistem Lahan Basah

Program Dosen Wajib Mengabdi Tahun 2026. (Foto: ULM)

Katajari.com – Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui pelaksanaan Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA).

Kegiatan yang mengusung tema Implementasi Pendekatan Deep Learning Berbasis Ekosistem Lahan Basah untuk Peningkatan Kompetensi Guru MGMP IPA Kota Banjarmasin dalam Pembelajaran kontekstual dan Berkelanjutan.

Diikuti oleh guru-guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA Kota Banjarmasin.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut diketuai oleh Mella Mutika Sari, M.Pd., dosen Jurusan Pendidikan IPA FKIP ULM.

Bersama tim dosen dan mahasiwa yang terlibat dalam Program Dosen Wajib Mengabdi Tahun 2026.

Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas guru dalam merancang pembelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Dengan memanfaatkan potensi ekosistem lahan basah sebagai sumber belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Dalam sambutannya, Mella Mutika Sari, M.Pd. menyampaikan bahwa pembelajaran IPA perlu terus beradaptasi dengan perkembangan pendidikan abad ke-21 yang menuntut peserta didik tidak hanya menguasai pengetahuan.

Tetapi juga memiliki keterampilan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.

Menurutnya, guru memiliki peran strategis dalam menciptakan pengalaman belajar yang mampu menghubungkan konsep-konsep ilmiah dengan fenomena nyata yang terjadi di lingkungan sekitar peserta didik.

“Pembelajaran IPA tidak lagi cukup hanya berorientasi pada penguasaan konsep,” katanya.

Guru perlu menghadirkan pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, keterampilan pemecahan masalah, kreativitas, serta epedulian terhadap lingkungan.

“Lingkungan lahan basah yang menjadi ciri khas Kalimantan Selatan merupakan laboratorium alam yang sangat kaya untuk mendukung pembelajaran tersebut,” ujarnya.

Kegiatan ini diikuti oleh guru IPA yang berasal dari berbagai sekolah dan madrasah, di antaranya SMP Sungai Tabuk.

SMP Negeri 25 Banjarmasin, SMP Negeri 9 Bnjarmasin, SMP Negeri 19 Banjarmasin, serta MTs Al Falah Putera.

Keberagaman peserta menunjukkan tingginya antusiasme para pendidik terhadap pengembangan kompetensi pembelajaran berbasis potensi lokal.

Sejalan dengan implementasi Kurikulum Merdeka dan penguatan pendidikan berkelanjutan.

Salah satu sesi utama dalam kegiatan ini adalah penyampaian materi mengenai pendekatan Deep Learning dalam Pembelajaran IPA yang disampaian oleh Yasmine Khairunnisa, S.Pd., M.A.

Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai konsep deep learning sebagai pendekatan pembelajaran yang menekankan proses belajar secara mendalam, reflektif, bermakna, dan berkelanjutan.

Sehingga peserta didik mampu menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dengan berbagai situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, Yasmine menjelaskan bahwa implementasi deep learning tidak hanya berorientasi pada pencapaian hasil belajar semata.

Tetapi juga menekankan kualitas proses pembelajaran yang dialami peserta didik.

Guru didorong untuk merancang aktivitas belajar yang menantang, memantik rasa ingin tahu, mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS),

Serta memberikan ruang bagi peserta didik untuk melakukan eksplorasi, investigasi, refleksi, dan pengambilan keputusan berdasarkan bukti ilmiah.

Menurut Yasmine, salah satu tantangan utama pembelajaran IPA saat ini adalah bagaimana menciptakan pembelajaran yang benar-benar kontekstual,

Terstruktur, berbasis kearifan lokal, dan mampu menumbuhkan kesadaran keberlanjutan pada peserta didik.

Masih banyak proses pembelajaran yang berfokus pada penyampaian materi dan hafalan konsep.

Tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami keterkaitan konsep tersebut dengan kehidupan nyata.

Kondisi ini menyebabkan peserta didik sering kali kesulitan mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh untuk memahami.

Maupun menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai solusi atas tantangan tersebut, peserta diperkenalkan pada konsep Deep Learning Berbasis Ekosistem Lahan Basah.

Sebuah pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan lahan basah sebagai sumber belajar autentik dan kontekstual.

Pendekatan ini sangat relevan diterapkan di Kalimantan Selatan yang memiliki karakteristik wilayah didominasi oleh sungai, rawa, dan berbagai ekosistem lahan basah lainnya yang menyimpan kekayaan biodiversitas serta berbagai fenomena ilmiah yang dapat dieksplorasi dalam pembelajaran IPA.

“Ekosistem lahan basah memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan konteks pembelajaran IPA,” ucapnya.

Berbagai fenomena yang terdapat di lingkungan sekitar siswa dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang autentik.

“Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan,” jelas Yasmine di hadapan para peserta.

Melalui pendekatan tersebut, guru diajak mengembangkan kemampuan berpikir sistem (systems thinking) pada peserta didik.

Kemampuan ini penting untuk membantu siswa memahami bahwa berbagai komponen dalam lingkungan saling berinteraksi dan membentuk suatu sistem yang kompleks.

Dalam konteks lahan basah, siswa dapat mempelajari hubungan antara kualitas air, keanekaragaman hayati, aktivitas manusia, kondisi sosial ekonomi masyarakat, serta dampaknya terhadap keberlanjutan lingkungan.

Dengan memahami keterkaitan tersebut, peserta didik diharapkan mampu melihat suatu permasalahan secara menyeluruh dan tidak hanya dari satu sudut pandang.

Selain berpikir sistem, pendekatan ini juga menekankan pengembangan kemampuan pemecahan masalah nyata (real-world problem solving).

Guru diajak merancang pembelajaran yang mengangkat berbagai isu lingkungan lokal seperti pencemaran sungai, pengelolaan sampah rumah tangga, penurunan kualitas lingkungan, konservasi keanekaragaman hayati lahan basah, serta pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan investigasi dan proyek berbasis masalah, siswa dilatih untuk mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, menganalisis penyebab, merumuskan solusi, dan mengevaluasi dampak dari solusi yang dihasilkan.

Aspek penting lainnya yang dibahas adalah penguatan scientific reasoning atau penalaran ilmiah.

Guru diberikan contoh bagaimana merancang kegiatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk mengamati fenomena, mengajukan pertanyaan, menyusun hipotesis, melakukan pengumpulan data, menganalisis hasil pengamatan, serta menarik kesimpulan berdasarkan bukti ilmiah.

Kemampuan ini menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang mampu berpikir kritis, logis, dan berbasis data dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Tidak kalah penting, pendekatan Deep Learning Berbasis Lahan Basah juga diarahkan untuk menumbuhkan sustainability awareness atau kesadaran keberlanjutan.

Melalui pemahaman tentang fungsi ekologis lahan basah, peran sungai dalam kehidupan masyarakat, serta pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan, peserta didik diharapkan memiliki kepedulian yang lebih tinggi terhadap upaya pelestarian sumber daya alam dan pembangunan berkelanjutan.

Sebagai contoh implementasi pembelajaran kontekstual, peserta diajak mengeksplorasi potensi Sungai Martapura sebagai laboratorium alam.

Sungai yang menjadi ikon Kota Banjarmasin tersebut menyimpan beragam fenomena ilmiah yang dapat dijadikan objek pembelajaran, mulai dari kualitas air, keanekaragaman organisme perairan, interaksi manusia dengan lingkungan sungai, hingga berbagai permasalahan lingkungan yang membutuhkan solusi berbasis sains.

Pemanfaatan Sungai Martapura sebagai sumber belajar dinilai mampu menjembatani antara konsep-konsep IPA dengan realitas kehidupan masyarakat setempat.

Selain penyampaian materi, kegiatan juga diisi dengan sesi diskusi dan penyusunan perangkat pembelajaran berbasis deep learning  serta

pengembangan buku ajar bertema Keanekaragaman Makhluk Hidup Lahan Basah.

Para guru diberikan kesempatan untuk menyusun rancangan pembelajaran yang mengintegrasikan isu-isu lingkungan lokal ke dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga menghasilkan produk pembelajaran yang siap diimplementasikan di kelas.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung.

Para guru aktif berdiskusi, bertukar pengalaman, dan berbagi praktik baik mengenai tantangan pembelajaran IPA di sekolah masing-masing.

Salah seorang peserta menyampaikan bahwa materi yang diberikan sangat membantu dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan dekat dengan lingkungan peserta didik.

Selain memperkaya wawasan mengenai deep learning, kegiatan ini juga memberikan contoh nyata bagaimana potensi lahan basah dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran IPA secara sistematis dan berkelanjutan.

Melalui Program Dosen Wajib Mengabdi ini, Universitas Lambung Mangkurat tidak hanya menjalankan fungsi pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga berkontribusi secara nyata dalam pengembangan pendidikan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan lahan basah.

Diharapkan, kompetensi yang diperoleh para guru dapat diterapkan di sekolah masing-masing sehingga mampu menciptakan pembelajaran IPA yang kontekstual, inovatif, berkelanjutan, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik di era modern.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan komunitas guru dalam mendukung transformasi pendidikan yang berpusat pada peserta didik serta memanfaatkan kekayaan lingkungan lokal sebagai sumber belajar yang bernilai ilmiah, edukatif, dan berkelanjutan.

Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, diharapkan lahir berbagai inovasi pembelajaran IPA yang mampu mencetak generasi muda Kalimantan Selatan yang unggul, berkarakter, peduli lingkungan, dan siap menghadapi tantangan masa depan.  (kjc)