Katajari.com – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Banjar terus mendorong pelestarian bahasa daerah melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang SMP se-Kabupaten Banjar Tahun 2026.
Kegiatan yang digelar di SMPN 2 Martapura, Rabu (30/9/2026), tersebut diikuti 255 siswa dari 63 sekolah negeri dan swasta.
Festival ini menjadi wadah bagi para pelajar untuk mengembangkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus menumbuhkan kreativitas dalam bidang sastra dan budaya lokal.
Sebanyak lima cabang lomba dipertandingkan, yakni cipta puisi dengan 44 peserta, bakisah bahasa Banjar 43 peserta, menulis kisah handap 48 peserta, pidato 41 peserta, serta bapandung atau komedi yang diikuti 39 peserta.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Disdik Kabupaten Banjar yang diwakili Sekretaris Disdik Banjar, Tisnohadi Harimurti, S.Sos., M.Ec.Dev.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa FTBI merupakan bagian dari upaya revitalisasi bahasa daerah, terutama bahasa ibu yang pertama kali diperoleh anak melalui lingkungan keluarga.
“Bahasa ibu sebagai bahasa pertama layak untuk dipertahankan, dilestarikan, dan dikembangkan. FTBI menjadi wahana untuk meningkatkan kemahiran dan kreativitas siswa dalam berbahasa daerah, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap kekayaan budaya berupa bahasa, sastra, dan aksara daerah,” ujarnya.
Menurut Tisnohadi, keberlangsungan bahasa daerah sangat bergantung pada peran generasi muda sebagai penerus.
Karena itu, berkurangnya minat anak muda untuk mempelajari dan mengembangkan bahasa daerah menjadi perhatian yang perlu ditindaklanjuti melalui upaya perlindungan dan pelestarian secara berkelanjutan.
Ia berharap pelaksanaan FTBI tidak sekadar menjadi ajang perlombaan, tetapi juga mampu memperkuat kecintaan pelajar terhadap bahasa dan budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa.
“Dengan FTBI, kami berharap generasi muda tidak melupakan akar budaya asli daerah, tetapi semakin mengenal dan melestarikannya sebagai wujud cinta tanah air.
Para peserta juga diharapkan dapat menjadi duta-duta bahasa ibu di daerahnya masing-masing,” katanya.
Pelaksanaan festival ini melibatkan Bidang Pembinaan SMP Disdik Kabupaten Banjar dan Pengawas Pembinaan SMP sebagai panitia.
Sementara itu, dewan juri berasal dari kalangan akademisi, sastrawan, praktisi seni budaya Kalimantan Selatan, serta Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia.
Melalui kegiatan tersebut, Disdik Banjar berharap kesadaran pelajar dan masyarakat terhadap pentingnya pelestarian bahasa daerah semakin meningkat.
Dengan demikian, bahasa Banjar dan kekayaan sastra daerah dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya serta tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman. (kjc)
























