Katajari.com – Dugaan maraknya transaksi jual beli emas tidak bersertifikat (Cukim) dari tambang emas ilegal di wilayah Kabupaten Banjar, mendapat sorotan tajam dari pegiat sosial dan Ekonomi Aliansyah.
Bahkan Aliansyah mengaku, sudah mengantongi beberapa nama yang terpantau melakukan transaksi jual beli emas tidak bersertifikat yang diduga emas tersebut merupakan hasil dari tambang ilegal.
Karena itu pihaknya akan membuat laporan kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PTATK).
“Nama-nama tersebut sudah kita kantongi terutama yang ada di lingkup Kabupaten Banjar. Logikanya, orang ini menganggur, tapi ada transaksi tidak wajar di rekening mereka. Kita minta rekening mereka diblokir oleh PTATK,” ujar Aliansyah, saat dihubungi via seluler, Selasa (14/4/2026).
Pria yang juga dikenal sebagai raja demo ini meminta, agar aparat penegak hukum seperti Polda dan Polres agar tidak menutup mata dengan keberadaan tambang-tambang emas ilegal.
“Jangan sampai ada dugaan aparat penegak hukum ada di balik maraknya tambang-tambang emas ilegal ini. Karena itu kita minta mereka bergerak cepat untuk menindaklanjuti isu jual beli emas yang diduga berasal dari tambang tidak berizin,” tegasnya.
Aliansyah memastikan, dalam waktu dekat pihaknya akan mengerahkan massa untuk menggelar aksi unjuk rasa.
“Kita akan gelar demo dalam waktu dekat ini” ungkapnya.
Ia mendukung, keberadaan tambang emas ilegal sangat banyak di wilayah Kalimantan Selatan, terutama di wilayah Kabupaten Banjar, Tanah laut, dan Kotabaru.
Ali mensinyalir jual beli emas cukim yang berasal dari tambang emas ilegal makin marak di Kota Martapura, Kabupaten Banjar.
Ia mengaku mendapat sejumlah informasi para pembeli ada cukong dari Jakarta.
Jual beli emas cukim (emas murni hasil pemurnian kimia) tidak selalu ilegal, tetapi menjadi ilegal ketika asal-usul emas ini berasal dari aktivitas yang melanggar hukum.
“Ini harus menjadi perhatian serius dari aparat penegak hukum, sebab tidak jarang dari aktivitas tambang ilegal itu masih menggunakan alat berat dan merusak lingkungan,” tutupnya. (kjc)
























