Acara khidmat ini turut dihadiri Wakil Bupati HST H. Gusti Rosyadi Elmi, Dandim 1002/HST Letkol Inf Ardiansyah Okta Putra Siregar.

Kemudian juga hadir Tuan Guru Syekh Abdus Salam Al-Makkyy Al-Baniary, para alim ulama, habaib, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta para undangan lainnya.

“Bagi Kesultanan Banjar, sebuah rumah adat bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah lambang jati diri, tempat budaya dipelihara, dan nilai-nilai kemanusiaan diwariskan,” ujar Sultan Banjar tersebut.

Berikut kutipan lainnya sambutan dari Pangeran Khairul Saleh pada peresmian rumah adat Banjar dan tempat pengobatan alternatif.

Pergi ke hulu memukat ikan, Ikan didapat di dalam raga.
Rumah Adat kita resmikan,
Warisan leluhur selalu dijaga.

Hadirin yang Ulun hormati,

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Khairun-nasi anfa’uhum linnãs.”
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ath-Thabrani)

Hadis yang mulia, ini mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan seseorang bukan diukur dari kedudukan ataupun hartanya, melainkan dari sebesar apa manfaat yang ia berikan kepada sesama.

Atas dasar itulah, Kesultanan Banjar menyampaikan penghargaan dan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada Kai Ahim beserta keluarga besar Pengobatan Alternatif Minyak Waras Borneo.

Kada semua orang diberikan kesempatan gasan mengabdikan dirinya demi kepentingan masyarakat.
Tidak semua orang membuka pintunya bagi mereka yang datang dengan harapan akan kesembuhan.

Apa yang dilakukan Kai Ahim adalah sebuah bentuk pengabdian yang patut dihargai.

Kami melihat bahwa tempat ini dibangun bukan semata-mata sebagai tempat berobat, tetapi sebagai tempat menumbuhkan harapan, menguatkan semangat hidup, dan menghadirkan kepedulian kepada sesama.

Kesultanan Banjar mendoakan semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, keberkahan umur, serta menjadikan setiap langkah pengabdian Kai Ahim sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Pantun gasan Kai Ahim

Menanam padi di tengah sawah,
Padi menguning harum baunya.
Kai Ahim menebar tuah,
Minyak Waras nyata manfaatnya.

Namun, perlu kita yakini bahwa setiap pengobatan hanyalah ikhtiar manusia. Kesembuhan yang hakiki hanyalah datang dari Allah SWT, sesuai firman-Nya dalam QS. As-Syu’ara ayat 80.
“Wa idza maridhtu fahuwa yasyfın.”
“Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku.”

Hadirin yang Ulun hormati,

Banua Banjar ini adalah rumah kita bersama. Banjar, Dayak, dan suku lainnya hidup berdampingan sebagai anugerah Allah SWT. Izinkan Ulun menegaskan.

Banjar dan Dayak bukanlah dua sejarah yang berjalan sendiri-sendiri. Kita adalah dua dahan satu akar yang tumbuh pada tanah yang satu yaitu pulau Kalimantan.

Elok nian si burung nuri,
Terbang hinggap di pohon jati.
Banjar Dayak teguh berdiri,
Seiring jalan seiring hati.

Sebagai penutup, marilah kita pegang teguh semboyan Kesultanan Banjar: “Baiman, Bauntung, Batuah”.

Pangeran Khairul Saleh Al-Mu’tashim Billah. (Foto: Kesultanan Banjar untuk katajari.com)

Mari kita menjadi masyarakat yang baiman yaitu melaksanakan kehidupan yg agamis, selalu bertaqwa kepada Allah menjaga hubungan hablum minalah dan hablum minannas,

Bauntung yaitu sejahtera berkecukupan lahir batin.

Batuah yaitu kehidupan kita membawa keberkahan bagi keluarga masyarakat dan Banua.

Burung Anggang terbang tinggi
Perlambang kesetiaan & mengayomi
Harmonis hidup pendatang dan dayak asli
Menjalani kodrat berlapang hati

Rumah banjar bubungan tinggi,
Rumah adat keramat berkayu besi
Baiman hati bauntung diri
Batuah Banua anugrah ilahi robbi

Semoga Allah SWT memberkahi setiap langkah kita.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pengobatan Alternatif Melestarikan Budaya Lokal

.Sementara itu, Sayyid Muhammad Ibrahim atau Kai Ahim berterima kasih kepada Sultan Banjar, Wakil Bupati HST, Dandim 1002/HST, Tuan Guru Syekh Abdus Salam Al-Makkyy Al-Baniary serta undangan lainnya yang telah hadir dalam peresmian ini.

Kai Ahim mengatakan, pengobatan alternatif tersebut dibuka untuk melestarikan budaya dan adat lokal, terutama minyak waras borneo.

“Bentuk tempat pengobatan pun sengaja kami bikin seperti rumah Banjar dan diberi nama Rumah Adat Banjar Tangga Karamat 159,” katanya.

Pihaknya dalam pengobatan menerima pasien semua penyakit, baik medis maupun non medis dengan niat menolong sesama secara tulus.

“Untuk masyarakat yang ingin berobat, kami selalu terbuka dan biaya tidak memberatkan, sukarela,” ujarnya.

Acara peresmian dirangkai dengan hiburan Musik Banjar, Kesenian Tradisional Banjar Main Kuntaw, Baledang.

Tarian Adat Dayak oleh DPP Ragam Budaya Kalimantan, Selawat bersama, hambur beras kuning, prosesi sakral dan rangkaian lainnya. (kjc)