Katajari.com – Tanggal 23 Mei merupakan hari yang selalu penuh dengan keheningan bagi warga Kalimantan Selatan ketika mengingat kisah memilukan atas tragedi Jumat kelabu yang terjadi 29 tahun lalu, 23 Mei 1997.
Kolaborasi Solidaritas Aksi Kamisan Banjarbaru dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Selatan, Sekolah Rakyat Merdeka Kalimantan Selatan, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Persiapan Banjarmasin, XR Banjarmasin, Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, B Bloc Syndicate (BBS), Equal Institute, dan Albert Camuh Syindicate menggelar diskusi Tragedi Jumat Kelabu Menolak Lupa Merawat Perlawanan, Minggu (24/5/2026) di Younki’s Pizza Banjarbaru.
Diskusi ini merupakan rangkaian kegiatan antara lain penggalangan dana, lapak kolektif, mimbar bebas, malam refleksi, hip-hop.
Tragedi Jumat Kelabu adalah peristiwa kelam pra-Reformasi yang berawal dari gesekan politik masa kampanye Pemilu di tahun 1997.
Namun berujung bentrok dan kerusuhan massal, hingga terjadinya pembakaran kota, dan merenggut ratusan nyawa yang terjebak di dalam pusat perbelanjaan ternama waktu itu Mitra Plaza Banjarmasin.
Diskusi membahas Tragedi Jumat Kelabu sebagai gerakan memperingati dan menuntut keadilan atas tragedi kerusuhan massal berdarah di Banjarmasin pada 23 Mei 1997.
Ada empat narasumber menjadi pemantik diskusi, di antaranya Willy Alfarius diketahui sebagai Dosen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat.
Faisal atau kesehariannya disapa Ical Iloenk, saksi sejarah yang juga fotografer dan sempat dokumentasi berbagai peristiwa pada kejadian Jumat Kelabu.
Kemudian ada Donny Muslim yang kesehariannya sebagai jurnalis dan mengangkat kisah sedih berkepanjangan dari sebagian para keluarga korban atas terjadinya Jumat Kelabu.
Nah, satu pemantik lagi diketahui selain pernah menjadi aktivis Yayasan Dalas Hangit, juga pernah menjabat anggota Komnas HAM, Hairansyah SH MH.
Pemantik pertama, Willy menyatakan bahwa diskusi ini menjadi refleksi sebuah peristiwa namun bukan peristiwa yang mudah dilupakan sehingga harus tetap diperingati.
“Menilik peristiwanya, relevansi dengan masa kini dan mendatang,” ucapnya.
Ini sebuah pelanggaran HAM, hanya tak diketahui siapa yang harus bertanggung jawab, namun tentunya berakhir dengan imunitas, karena ada banyak nyawa yang hilang.
“Kejadian ini terjadi setahun sebelum orba tumbang. Sejarah terbentuknya orba juga ada banjir darah. Kejadian Jumat kelabu ada keluarga yang kehilangan, dan tanpa ada kejelasan,” ungkap Willy.
Hal itu, sambung dia, mesti ada keadilan untuk kasus yang terjadi dengan penyelesaian.
“Penulisan sejarah, hal seperti ini malah ditabukan, padahal harus tetap hidup, penting mengingatnya,” sebutnya.
Bagaimana dengan mantik diutarakan Ical?
Ical yang menyaksikan dan saksi sejarah sebagian kronologis ihwal hingga berlangsungnya tragedi Jumat Kelabu memaparkan bagaimana ia berada di lokasi kejadian.
Mulai ia diinterogasi para peserta konvoi, dokumentasi terjadinya pembakaran tempat ibadah non muslim, reken rekannya yang menjadi wartawan diintimidasi.
“Dulu hanya ada pager untuk komunikasi dan untuk memoto saya punya kamera poket sehingga ada foto kejadian saat itu,” kata dia.
Ironisnya, kekacauan hingga amukan aksi, ungkap dia, berubah sasaran menjurus Suku Agama Ras Antar Golongan (SARA).
RIngkas dan padat Ical memaparkan gambaran kejadian Jumat kelabu yang terekam di benaknya dan setiap foto dari kamera poket miliknya.
Beralih pada Donny Muslim, seorang jurnalis asal Kalimantan Selatan dan anggota senior AJI Persiapan Banjarmasin, yang membuat liputan mendalam dan mendokumentasikan kengerian peristiwa tersebut serta kondisi makam massal korban yang kini terkesan terbengkalai.
Ia mengisahkan pertemuannya dengan Aswin Pratama yang merupakan jurnalis senior namun anaknya hilang pada medio Mei 1997 atau diperkirakan ikut menjadi korban tragedi Jumat kelabu.
Bahkan, sampai sekarang belum ada kabar berita hilangnya anak Aswin, bernama Indra.
Namun, Aswin tak henti mendoakan anaknya maupun para korban Jumat kelabu yang dimakamkan di kuburan massal di Jl A Yani Km 22 Banjarbaru.
“Liputan emosional karena bertemu saksi, beberapa kali pertemuan baru keluarga korban buka suara,” kata Donny.
Ada usul menarik tercetus dari mulut Donny Muslim, “Kalau bisa ada terbentuk komunitas atau paguyuban para keluarga korban Jumat kelabu.”
Di tempat sama, narasumber Hairansyah mengemukakan bahwa saat itu terjadi eskalasi politik tinggi dengan antusias massa.
Apalagi, kerusuhan juga terjadi pada beberapa daerah di Indonesia seperti Tasikmalaya, Abepura, Situbondo, jadi bukan hanya Banjarmasin Kalimantan Selatan.
“Situasi di Banjarmasin begitu mencekam dengan suasana chaos,” katanya.
Ia juga menerima informasi, ada perintah atau instruksi pusat agar petugas keamanan tidak mengambil risiko atau pemicu karena petugas kurang lalu bila terjadi bentrok memungkinkan didramatisasi.
“Pemetaan saat itu, ada Komnas HAM yang hadir. Ada tiga kategori yaitu sebelum, terjadi, dan setelah kejadian. Kejadian di Banjarmasin termasuk kategori HAM berat karena jumlah manusia yang hilang dan kerusakan bangunan,” papar Ancah– sapaan akrab Hairansyah.
Satu hal disampaikan Ancah bahwa kejadian ini menjadi tanggung jawab negara.
Negara harus bertanggung jawab karena bicara soal korban, maka keluarga korban berhak menerima pelayanan negara, misal hak untuk mengetahui kejadian sebenarnya.
Pamungkas kesimpulannya, Ancah mengutarakan agar Pemerintah Kota Banjarmasin penting untuk membuat monumen atau prasasti pengingat terjadinya Jumat kelabu. (kjc)
























